Pendekatan Geografi
Pendekatan geografi tuh apa sih? Jadii, pendekatan geografi adalah segala
hal yang memiliki hubungan dengan lingkungan hidup manusia, termasuk interaksi
antar makhluk hidup dan sekitarnya. Biasanya, pendekatan geografi digunakan
untuk menganalisa dan mengkaji berbagai macam gejala alam serta fenomena
geosfer.
Ilmu geografi dibagi jadi tiga pendekatan, yaitu pendekatan keruangan, pendekatan ekologi, dan pendekatan kompleks
wilayah. Mari kita bahas satu per satu.
1. Pendekatan Keruangan
Setiap fenomena geografi di masing-masing wilayah pasti berbeda-beda dan
mempunyai pola keruangan/spasial tertentu (spatial structure). Nah, tugas para
ahli geografi adalah untuk menjawab pertanyaan, kenapa sih pola keruangan
fenomena geografi bisa seperti itu dan bagaimana terjadinya (spatial process).
Akibat perbedaan tersebut biasanya timbul interaksi antarwilayah dalam
bentuk adanya pergerakan manusia, barang, dan jasa. Tahukah kamu tema analisis
keruangan merupakan ciri utama dari geografi, lho.
Selain itu, pendekatan penelitian keruangan juga paling kuat kemampuannya
untuk melakukan perumusan (generalisasi) dalam rangka menyusun teori. Misalnya,
contoh konkret penggunaan pendekatan keruangan untuk mengkaji antara tingkat
kemiringan lereng, jenis tanah, dan vegetasi dengan terjadinya erosi.
2. Pendekatan Ekologi
Rangkaian fenomena dipandang dalam satu kesatuan ruang dan saling
berkaitan di dalam sebuah sistem, dengan manusia sebagai unsur utamanya.
Alasannya, campur tangan manusialah yang membuat keseimbangan ekologis
menjadi terganggu. Maka, nggak heran kalau banyak ahli geografi yang memakai
analisis ekologi.
Biasanya, pendekatan ekologi untuk mengkaji siklus hidrologi, siklus
erosi, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), serta pengelolaan lingkungan dan
sumber daya.
Namun, analisis ekologi juga tidak terlepas dari kelemahannya, yang
terletak pada lemahnya perumusan masalah dibanding dengan analisis keruangan.
Akibatnya, sulit untuk dapat menghasilkan teori. Tetapi keunggulannya, terletak
pada fokus yang lebih besar terhadap masalah lingkungan.
3. Pendekatan Kompleks Wilayah
Pendekatan kompleks wilayah merupakan perpaduan antara analisis keruangan
dan analisis ekologi. Kelemahannya adalah kurang jelasnya struktur serta fokus
yang berorientasi pada masalah.
Sementara itu, keunggulannya terletak pada fungsinya sebagai penggabungan
analisis (sintesis) yang memungkinkan pemahaman secara keseluruhan dan
komprehensif atas wilayah. Hal ini tentu saja sangat diperlukan di dalam
pengelolaan lingkungan dan sumber daya.
Contoh penggunaan pendekatan kompleks wilayah adalah ketika menganalisis
perkembangan wilayah metropolitan yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial,
dan lingkungan.
Pendekatan kompleks wilayah adalah salah satu analisis geografi yang
dikemukakan oleh Hartshorne (1939), Luckermann (1964), Broek (1965), Mitchell
(1979), dan Hagget (1983).
Objek Kajian Geografi
Secara garis besar, objek kajian geografi terbagi menjadi dua nih, ada
objek material yang berkaitan dengan fenomena geosfer dan objek formal yang
berkaitan dengan cara pandang geografi. Bedanya apa sih?
1. Objek Material
Berupa kajian geografi dan yang paling umum dikenal yaitu mengenai
geosfer (lapisan bumi), yang meliputi:
Litosfer (lapisan keras) adalah lapisan luar/kerak bumi kita
Atmosfer (lapisan udara) dan lapisan atmosfer bawah dikenal sebagai
troposfer.
Hidrosfer (lapisan air) berupa lautan, danau, sungai, dan air tanah.
Biosfer (lapisan tempat hidup) terdiri atas hewan, tumbuhan, dan manusia
sebagai suatu komunitas, bukan dilihat sebagai individu.
Pedosfer (lapisan tanah) yaitu lapisan batuan dan telah mengalami
pelapukan, baik pelapukan fisik, organik, maupun kimia.
Kesimpulannya objek material geografi meliputi gejala-gejala yang terjadi
di muka bumi, seperti aspek batuan, tanah, gempa bumi, cuaca, iklim, gunung
api, udara, air, serta flora dan fauna yang terkait dengan kehidupan manusia.
2. Objek Formal
Objek formal dalam geografi adalah sudut pandang dan cara kita berpikir
terhadap suatu gejala yang ada di muka bumi. Cara berpikir tersebut mencakup keruangan
(spasial), kelingkungan (ekologi), dan kewilayahan (kompleks wilayah) seperti
yang sudah kita bahas sebelum ini.
Pada ilmu geografi selalu ditanyakan mengenai di mana suatu gejala
terjadi, dan mengapa bisa terjadi di sana. Maka diharapkan mampu menjawab
berbagai pertanyaan sebagai berikut.
Apa (what), terkait struktur, pola,
fungsi dan proses kejadian di permukaan bumi.
Di mana (where), terkait letak suatu
objek geografi di permukaan bumi.
Berapa (how much/many) menjelaskan ukuran
(jarak, luas, isi, dan waktu) objek geografi dalam bentuk angka-angka.
Mengapa (why) memuat rangkaian waktu
dan tempat, latar belakang, atau interaksi/saling kebergantungan suatu gejala,
peristiwa, dan motivasi manusia.
Bagaimana (how), berkaitan dengan
penjabaran suatu pola, fungsi, dan proses gejala dan peristiwa.
Kapan (when), menjelaskan waktu
berlangsungnya kejadian.
Siapa (who), berkaitan dengan
subjek/pelaku dari suatu kejadian atau peristiwa.
Sebagai contoh, ada suatu perkampungan yang mengalami kesulitan air
bersih. Dalam memandang peristiwa ini pertanyaan yang harus dijawab, seperti
berikut.
Apa (what) yang terjadi? Jawab:
kesulitan air bersih.
Di mana (where) kesulitan air bersih
terjadi? Jawab: di Kampung Puragi, Sorong Selatan.
Berapa (how much/many) banyak air bersih yang
masih bisa dimanfaatkan? Jawab: bila dalam keadaan hujan, debit sungai mencapai
1 l/S, namun saat kemarau panjang sama sekali tidak ada debit.
Mengapa (why) bisa terjadi? Jawab:
akibat pengaruh iklim dan letak perkampungan di dekat wilayah pantai, maka jika
tidak hujan hanya bisa mengakses air payau.
Bagaimana (how) kesulitan air bersih itu
berlangsung? Jawab: hal ini melanda seluruh kawasan Kampung Puragi, yang
ditandai dengan mengeringnya sumur-sumur penduduk dan sungai.
Kapan (when) hal itu terjadi? Jawab:
terutama saat musim kemarau tiba (April – Oktober).



0 komentar:
Posting Komentar